Selama beberapa tahun terakhir saya sudah mendaki sepuluh gunung di Jawa: Papandayan, Prau, Gede, Pangrango, Merbabu, Sindoro, Lawu, Sumbing, Argopuro, dan Semeru. Setiap kali ada teman yang baru mau mulai naik gunung, pertanyaannya selalu sama mulai dari mana?
Jawabannya tidak sesederhana “yang penting jangan Semeru dulu.” Ketinggian bukan satu-satunya faktor. Ada gunung 2.600-an mdpl yang jalurnya lebih menyiksa dibanding gunung 3.300 mdpl, karena medan, cuaca, dan jarak tempuhnya beda jauh. Jadi saya susun sepuluh gunung ini bukan berdasarkan angka di peta, tapi berdasarkan apa yang saya rasakan di jalur.
Tingkat Pertama Cocok untuk Pendakian Pertama
Papandayan (2.665 mdpl)
Ini gunung yang paling sering direkomendasikan untuk pendaki pertama kali, dan menurut saya alasannya masuk akal. Jalur menuju Pondok Saladah relatif landai, akses dari pos ke area camping tidak terlalu jauh, dan pemandangan kawah aktif di awal pendakian memberi “reward” instan tanpa harus jalan berjam-jam dulu.
Prau (2.590 mdpl)
Gunung ini jadi favorit banyak orang karena waktu tempuhnya pendek sebagian jalur bisa ditempuh kurang dari 3 jam ke puncak tapi sunrise-nya sekelas gunung yang jauh lebih tinggi. Cocok untuk pendaki yang mau merasakan golden sunrise tanpa harus dua hari perjalanan.
Tingkat Kedua Butuh Stamina, Tapi Jalur Bersahabat
Gede (2.958 mdpl) dan Pangrango (3.019 mdpl)
Dua gunung ini biasanya didaki dalam satu kawasan taman nasional, kadang dalam satu trip. Gede punya Alun-Alun Suryakencana yang jadi daya tarik utama; Pangrango punya Mandalawangi. Jalurnya jelas dan terawat karena statusnya taman nasional, tapi tetap butuh stamina karena jarak tempuh yang lebih panjang dibanding Papandayan atau Prau.
Merbabu (3.145 mdpl)
Terkenal dengan sabananya yang luas, tapi jangan salah waktu tempuh ke puncak dan kembali bisa lebih dari 12 jam tergantung jalur yang diambil. Ini gunung yang secara teknis tidak terlalu sulit, tapi butuh daya tahan karena durasinya panjang.
Tingkat Ketiga, Perlu Persiapan Fisik dan Mental
Sindoro (3.150 mdpl)
Kembarannya Sumbing, tapi karakternya lebih bersahabat. Tetap menanjak signifikan, dan kawah aktif di puncaknya berarti kamu perlu masker karena asap belerang. Bukan gunung yang bisa didaki tanpa persiapan, tapi juga bukan yang paling menyiksa di daftar ini.
Lawu (3.265 mdpl)
Jalur Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang cukup jelas dan ramai, jadi secara navigasi tidak sulit. Tapi durasi panjang dan suhu dingin ekstrem di dekat puncak apalagi kalau lewat malam — butuh persiapan perlengkapan yang benar, bukan asal bawa jaket tebal.
Tingkat Keempat Persiapan Matang, Bukan untuk Coba-Coba
Sumbing (3.371 mdpl)
Ini yang paling sering saya dengar dikeluhkan pendaki lain: tanjakannya konsisten curam dari awal sampai akhir, nyaris tanpa bonus jalan landai. Butuh kekuatan kaki dan mental yang sudah teruji di gunung-gunung sebelumnya. Bukan gunung untuk pendakian pertama atau kedua.
Argopuro (3.088 mdpl)
Meski ketinggiannya tidak setinggi Sumbing atau Semeru, Argopuro punya tantangan berbeda: jalur terpanjang di Jawa, bisa 3-4 hari perjalanan, melewati savana luas dan hutan yang jarang dilalui pendaki lain. Ini gunung untuk stamina jangka panjang, bukan sekadar tanjakan curam sesaat.
Semeru (3.676 mdpl)
Gunung tertinggi di Jawa, dan sekarang pendakiannya diatur ketat lewat sistem booking online serta pembatasan jalur pendakian ke puncak. Ranu Kumbolo jadi titik istirahat ikonik sebelum lanjut ke area yang lebih berat. Ini gunung yang butuh persiapan fisik, logistik, dan administrasi sekaligus bukan sekadar niat kuat.
Jadi, Mulai dari Mana?
Kalau kamu baru mau mulai, Papandayan atau Prau adalah titik awal yang masuk akal bukan karena “gampang” dalam arti remeh, tapi karena jalurnya memberi ruang untuk belajar membaca kondisi tubuh sendiri tanpa risiko yang terlalu tinggi. Dari situ, naik bertahap ke Gede-Pangrango dan Merbabu sebelum mencoba yang trek-nya lebih menuntut seperti Sumbing, Argopuro, atau Semeru.
Yang paling penting bukan urutan gunungnya, tapi kejujuran terhadap kondisi fisik sendiri di setiap pendakian. Gunung yang sama bisa terasa sangat berbeda tergantung cuaca, beban bawaan, dan kesiapan tubuh hari itu.