Pendakian Gunung Argopuro, Empat Hari Menyusuri Trek Terpanjang di Pulau Jawa

Bagikan artikel ini

Ada gunung yang kamu daki buat ngejar puncak, dan ada gunung yang kamu jalani buat ngerasain perjalanannya. Argopuro masuk kategori kedua. Ini bukan gunung yang bisa kamu selesaikan dalam sehari semalam kayak kebanyakan gunung di Pulau Jawa. Jalurnya sekitar 60 kilometer, motong hutan hujan pegunungan, savana seluas mata memandang, danau di ketinggian, sampai reruntuhan purbakala yang lebih tua dari cerita yang kamu dengar soal gunung ini. Rutenya panjang, tapi justru di situ letak candunya Argopuro nggak buru-buru, dan kamu juga nggak akan sempat bosan.

Trip kali ini aku ambil jalur klasik naik dari Baderan, turun di Bremi. Empat hari, tiga malam, dengan tiga puncak diborong sekaligus di hari ketiga. Ini ceritanya, lengkap sama jam-jam perjalanan biar bisa jadi patokan buat kamu yang lagi nyusun itinerary.

Kenapa Argopuro Beda dari Gunung Jawa Kebanyakan?

Kalau kamu terbiasa sama pola gunung-gunung populer naik, camp semalam, summit attack subuh, turun lupakan pola itu dulu. Argopuro adalah kompleks gunung berapi tua yang jadi bagian dari Pegunungan Hyang, dan daya tariknya bukan cuma satu titik tertinggi, tapi keseluruhan lintasannya. Di jalur ini kamu bakal gonta-ganti medan hutan tropis yang lembap dan rapat di awal, savana terbuka yang anginnya kenceng banget, sampai hutan lumut yang bikin kamu ngerasa jalan di dunia lain.

Salah satu titik paling dikenang di jalur ini adalah Cikasur, padang savana luas yang dulunya bekas landasan pacu peninggalan kolonial Belanda. Selain itu ada legenda Dewi Rengganis yang melekat di Puncak Rengganis, lengkap dengan reruntuhan purbakala yang dipercaya sisa tempat pemujaan dari masa Hindu-Majapahit. Buat urusan air, Argopuro termasuk royal beda dari gunung-gunung yang bikin kamu harus bopong galon sejak basecamp. Tapi bukan berarti perjalanannya ringan. Jarak tempuh yang panjang dan medan yang naik-turun terus-menerus tetap menuntut fisik yang siap dan logistik yang dihitung matang.

Hari Pertama: Baderan Menuju Cikasur, Berkenalan dengan Hutan dan Savana

Property dzakventure.id

dzakventure.id

Perjalanan dimulai jam 07.00 dari Basecamp Baderan. Etape pertama ke Mata Air 1 biasanya ditempuh pakai ojek sampai jam 08.00 trik yang lumayan menghemat tenaga karena rute awal ini didominasi jalan makadam yang panas dan monoton. Dari sini baru jalan kaki beneran dimulai.

Dari Mata Air 1 ke Mata Air 2 makan waktu sekitar dua jam, tiba jam 10.00. Vegetasi mulai berubah, hutan makin rapat, dan suara burung liar jadi teman jalan yang setia. Lanjut ke Savana Kecil, tiba jam 12.00, pas banget buat istirahat makan siang sambil ngeliat langit terbuka pertama kali sejak berangkat.

Setelah istirahat, jam 13.00 perjalanan dilanjutkan ke Savana Besar, tiba jam 15.00. Di titik ini pemandangan savana mulai terasa skalanya hamparan rumput luas dengan bukit berlapis di kejauhan. Dari Savana Besar, etape terakhir hari itu adalah menuju Cikasur, tempat camp pertama. Dengan estimasi tempuh sekitar 1-1,5 jam, rombongan tiba di Cikasur sore hari, sekitar jam 16.30.

Camp di Cikasur itu momen yang selalu jadi favorit banyak pendaki. Selain padang savananya luas dan datar, ada nuansa historis yang kental sisa-sisa landasan pacu Belanda masih bisa dikenali di beberapa bagian. Malam pertama di sini biasanya tenang, dengan langit yang kalau lagi cerah bakal penuh bintang tanpa halangan.

Hari Kedua: Cikasur ke Savana Lonceng, Melintasi Cisentor dan Rawa Embik

Hari kedua dimulai lebih santai, berangkat dari Cikasur jam 09.00 menuju Cisentor. Perjalanan ini makan waktu sekitar tiga jam, tiba jam 12.00, pas untuk berhenti makan siang. Cisentor sendiri dikenal sebagai persimpangan penting di jalur Argopuro titik ini juga sering jadi tempat camp alternatif buat pendaki yang mau membagi ritme perjalanannya.

Setelah istirahat, jam 13.00 lanjut ke Rawa Embik, tiba jam 15.00. Rawa Embik adalah salah satu sumber air penting di jalur ini, dan biasanya jadi titik pengisian ulang terakhir sebelum masuk area savana dan puncak. Dari sini, etape terakhir hari itu adalah Savana Lonceng, tiba jam 16.30, tempat camp kedua.

Savana Lonceng punya posisi strategis dia terletak di antara dua puncak utama Argopuro, jadi jadi basecamp alami buat serangan puncak keesokan harinya. Suasana di sini lebih terbuka dan anginnya kencang, jadi pastikan tenda dipasang kuat.

Hari Ketiga: Memborong Tiga Puncak dalam Satu Hari

Purbakala Rengganis Dzakventure.id

Ini hari paling padat sekaligus paling memuaskan dari seluruh perjalanan. Summit dimulai pagi buta, jam 05.30 dari Savana Lonceng menuju Puncak Rengganis, dan cuma butuh sekitar setengah jam untuk sampai di jam 06.00. Di Puncak Rengganis inilah reruntuhan purbakala yang dipercaya sebagai petilasan Dewi Rengganis bisa ditemukan susunan batu kuno yang menambah aura mistis tempat ini, apalagi kalau kamu sampai pas golden hour saat matahari baru muncul dari balik awan.

Setelah puas menikmati sunrise dan suasana Rengganis, rombongan turun kembali ke Savana Lonceng untuk berkemas, lalu melanjutkan perjalanan jam 09.00 menuju Puncak Argopuro, titik tertinggi sebenarnya dari seluruh kompleks gunung ini di ketinggian sekitar 3.088 mdpl meski secara visual kalah tenar dibanding Rengganis, di sinilah tugu triangulasi resmi berada. Perjalanan singkat ini cuma makan waktu setengah jam, tiba jam 09.30.

Dari Puncak Argopuro, perjalanan dilanjutkan menuju Puncak Hyang, berangkat jam 11.00 dan tiba jam 11.30. Tiga puncak dalam satu pagi — capek, tapi worth it. Dari titik-titik ini pemandangan 360 derajat memperlihatkan lautan awan dan siluet gunung-gunung lain di Jawa Timur, sebuah rewards yang cuma bisa dinikmati kalau kamu benar-benar sampai ke atas.

Perjalanan turun dimulai jam 12.00 menuju Cemoro Limo, tiba jam 14.00. Titik ini jadi semacam pos transisi antara area puncak dan Danau Taman Hidup. Dari Cemoro Limo, etape terakhir hari itu adalah menuju Danau Taman Hidup, tiba jam 16.00 untuk camp terakhir.

Camp di tepi Danau Taman Hidup adalah salah satu pengalaman paling syahdu di jalur Argopuro. Airnya tenang, dikelilingi vegetasi rapat, dan suasananya sering diselimuti kabut tipis yang bikin semuanya terasa lebih hening. Setelah hari paling melelahkan sekaligus paling penuh pencapaian, malam terakhir ini jadi momen yang pas buat menghela napas sambil mensyukuri perjalanan yang hampir kelar.

property dzakventure.id

Hari Keempat: Turun ke Bremi, Menutup Perjalanan

Hari terakhir jauh lebih santai dibanding tiga hari sebelumnya. Berangkat dari Danau Taman Hidup jam 09.00, perjalanan turun menuju Basecamp Bremi ditempuh dalam empat jam, tiba jam 13.00. Jalur turun ini didominasi hutan dengan turunan panjang, jadi walau secara fisik lebih ringan dari hari-hari sebelumnya, tetap butuh kehati-hatian menjaga ritme langkah, terutama kalau tanah lagi lembap.

Sampai di Bremi, perjalanan lintas Baderan-Bremi resmi kelar. Empat hari, puluhan kilometer, tiga puncak, satu danau, dan satu savana bekas landasan pacu Belanda Argopuro selalu punya cara buat bikin pendakinya pulang dengan cerita yang nggak habis-habis diceritain ulang.

Catatan Praktis Buat yang Mau Coba

Beberapa hal yang perlu diperhitungkan kalau kamu mau ambil rute yang sama. Ketersediaan air di jalur ini relatif baik dibanding gunung lain, tapi tetap wajib direbus sebelum diminum karena sumbernya air mengalir alami. Angin di area savana dan Savana Lonceng cenderung kencang, jadi pastikan tenda dan flysheet dalam kondisi prima. Total durasi bisa diperpanjang jadi 5-6 hari kalau mau ritme lebih santai, terutama dengan menambah waktu istirahat di Cikasur atau Taman Hidup. Dan yang terakhir karena ini trek lintas, urus dulu logistik penjemputan atau transportasi balik dari Bremi ke titik awal, karena dua basecamp ini nggak satu jalur akses.

Argopuro bukan gunung yang bisa diburu-buru, dan memang nggak seharusnya diburu-buru. Kalau kamu nyari pendakian yang lebih tentang perjalanan daripada sekadar checklist puncak, jalur Baderan-Bremi ini salah satu jawabannya.

Satu pemikiran pada “Pendakian Gunung Argopuro, Empat Hari Menyusuri Trek Terpanjang di Pulau Jawa”

Tinggalkan komentar